Senin, 21 Desember 2009

Kisah Seorang Ibu

Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua, hidup dengan anak satu satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu satunya itu. Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk. Yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdo’a kepada Tuhan, “ Tuhan, sadarkan anaku yang kusayangi. Supaya ia tidak berbuat dosa yang lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum aku mati”

Namun semakin lama, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya, akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan liat. Kemudian dibaa ke hadapan raja untuk di adili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah di timbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si anak tersebut di jatuhi hukuman pancung. Pengumuman tersebut di sebar ke seluruh desa. Hukuman pancung akan di laksanakan ke esokan harinya di depan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng istana berdentang menandakan tepat pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya. Sembari berlutut ia berdo’a kepada Tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba, biarlah hambaMu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih tatih ia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya di bebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, si anak tetap harus menjalani hukuman, dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti ia berdo’a supaya anaknya di ampuni. Karena kelelahan ia tertidur dan bermimpi dengan Tuhan.

Keesokan harinya, tempat yang sudah di tentukan. Rakyat berbondong bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang algojo sudah siap dengan alat pancungnya.dan si anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang dimatanya muka ibunya tang sudah tua.tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik detik yang dinantikan akhirnya tiba sampai waktu yang telah ditentukan. Lonceng istana belum juga berdentang. Suasana sudah mulai berisik, sudah lima menit berlalu. Akhirnya di datangi petugas yang membunyikan lonceng istana. Dia juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi ia menarik lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Ketika mereka sedang terheran heran, tiba tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah, darah tersebut berasal dari tempat dimana lonceng di ikat. Dengan jantung yang berdebar debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata didalam lonceng besar itu di temui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi. Sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.

seluruh orang yang melihat kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang sudah menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya dibandul dalam lonceng itu untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahatnya si anak. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing, selagi kita masih mampu, karena mereka adalah sumber kasih tuhan bagi kita di dunia ini, amin.

Sesuatu untuk dijadikan renungan untuk kita agar selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa di nilai dengan apapun.


Dikutif Dari Buku Motivasi Net Karya Ir.Andi Muzaki SH.MT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar